Rabu, 7 April 2010
Hidup bagaikan kartu joker….
Satu sisi terlihat begitu bahagia, penuh senyuman dan kesenangan…
Akan tetapi dibalik sisi itu, terdapat makna terdalam akan kehidupan perih, sakit, terluka…
Seakan wajah itu hanya lakon seorang artis di atas panggung ketenarannya…
Itukah kehidupan yang tengah kujalani ini?
Ataukah mungkin, bukan hanya aku yang terlihat demikian...
Manusia begitu sulit mengucapkan syukur..
Demikian pula diriku ini...
Yang aku ingat kini dan kurasa...
Aku terluka, terluka yang begitu dalam, terlalu dalam seakan aku akan terbawa arus untuk terus tenggelam di dalamnya.
Perihnya begitu terasa, layaknya luka sayat, kecil, namun begitu tersiram air garam, luka itu menyeruak keluar membentuk simpul merah yang tak tertahan.
Bahagia yang dulu kudamba, kurajut dengan sabar, dan kuangan – angankan, hanyalah sisa – sisa perjuanganku di masa lalu, yang kini tak memiliki makna.
Mungkin lebih tepatnya telah tak berarti lagi.
Kala aku sendiri, bahkan di tengah keramaian sekalipun, aku merasa kau selalu membayangi diri ini. Tak rela memberikanku kesempatan tuk membentuk simpul jingga yang manis di wajah ini. Begitu naifkah aku???
Salahkah bila angan itu terus ada dalam bayang diri ini???
Sejauh langkahku kini, tiada insan yang ada di lubuk ini, selain kau yang telah menorehkan sakit n senyum yang selalu kudamba kembali.
Ingatkah kau akan aku ini???
Begitu tak berhargakah batu ini???
Terhina, terluka dan terombang – ambing oleh gulungan ombak keras di tepian pantai, hendak membawaku pergi jauh ke tengah samudera luka yang dalam.